KOLOM: Menggugat Marquee Player di Liga 1

082023800_1491226498-IMG_6954.JPG

Bagi awam, ketika mendengar marquee player, secara otomatis yang terbayang adalah sosok David Beckham di Major League Soccer (MLS) dan Alessandro Del Piero di Indian Super League (ISL). Mereka bukan hanya pemain brilian, melainkan selebritas lapangan hijau. Mereka punya pengaruh besar di dalam dan luar lapangan. Meski datang ke liga semenjana saat beranjak tua dan di ujung karier, pesona mereka masih luar biasa.

Sejatinya, marquee player memang harus seperti itu. Hanya sosok superstar yang bisa menaikkan kualitas kompetisi. Hanya sosok selebritas pula yang bisa mendongkrak popularitas liga. Marquee player dibayar mahal untuk menjadi katalisator dua hal itu.

Bila ditelaah, ISL mengusung konsep marquee player yang sama dengan di Liga 1 musim ini. Namun, sejak diberlakukan pada 2014, nama-nama yang direkrut sebagai marquee player tetaplah berkategori superstar pada masa jayanya. Dari nama-nama yang pernah dan sedang beredar saat ini, sosok yang bisa dikatakan bukan superstar mungkin Aaron Hughes dan Joan Capdevilla. Namun, tetap saja, nama keduanya tidaklah asing di telinga.

Peter Odemwingie (Domino1one.club/Risa Kosasih)

Itu karena All Indian Football Federation (AIFF) menegaskan, pemain asing yang tidak pernah berlaga di turnamen internasional (Piala Dunia, Piala Eropa, Copa America, Piala Afrika, Piala Asia) bisa saja menjadi marquee player asalkan pernah membela klub bereputasi internasional di kompetisi yang juga bereputasi internasional dan berstatus penggawa timnas negaranya. Jadi, andai hanya pernah membela Paderborn di Bundesliga atau Evian di Ligue 1, kecil kemungkinan seorang pemain jadi marquee player.

Beda halnya dengan di Liga 1 musim ini. Peter Odemwingie yang direkrut Madura United, Shane Smeltz (PBFC), Jose Coelho (Persela), Wiljan Pluim (PSM) jelas tak setara dengan para marquee player ISL. Coelho dan Pluim bahkan belum pernah membela timnas masing-masing. Satu-satunya pemain yang bisa dikatakan marquee player adalah Essien yang pada masa emasnya memang termasuk salah satu bintang dunia.

Odemwingie bolehlah dikenal publik. Namun, itu karena dia pernah berkiprah di Premier League yang selama bertahun-tahun selalu ditayangkan stasiun televisi di negeri ini. Namun, dia tidak pernah menjadi bintang di klub besar. Striker asal Nigeria tersebut hanya berkiprah di klub-klub semenjana: West Bromwich Albion, Cardiff City, dan Stoke City. Di timnas Nigeria pun namanya kalah besar dari Nwankwo Kanu, Obafemi Martins atau Julius Aghahowa.

Shane Smeltz memberi keterangan usai penandatangan kontrak dengan PBFC di Jakarta, Selasa (11/4). Shane Smeltz berstatus marquee player dan diikat kontrak oleh PBFC selama semusim. (Domino1one.club/Helmi Fithriansyah)

Kasarnya, dari deretan marquee player Liga 1 saat ini, mayoritas tergolong “not so special”. Lalu, apa yang bisa dituntut dari marquee player seperti ini? Rasanya sulit berharap banyak. Apalagi sampai membayangkan Liga 1 dikenal di seantero Planet Bumi berkat mereka.

Memang benar, Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat, India, dan Australia. Kultur sepak bola di negeri ini jauh lebih besar dan kuat walaupun prestasinya begitu-begitu saja. Indonesia tak butuh Beckham dan Del Piero untuk menyedot penonton memenuhi stadion pada hari pertandingan. Namun, fungsi marquee player bukan hanya itu. Dia juga sosok yang jadi wajah liga di pelataran dunia. Lagi pula, bila tidak istimewa, apa bedanya marquee player dengan pemain asing biasa?

Berita Bola Lainnya