Nostalgia Djadjang Nurdjaman, Rajut Sukses di Kota Kembang

Usai pensiun pada 1994 lalu, Djanur dipercaya menjadi asisten Indra M. Thohir di Persib pada Liga Indonesia 1994-1996. Setelah itu dia lebih memantapkan karier kepelatihan dengan menukangi Persib Junior (U-23).

Pada tahun 2006 lagi-lagi dia mendapat kepercayaan sebagai asisten pelatih untuk mendampingi Arcan Iurie. Setelah itu dia mengembangkan karier kepelatihan di luar Persib dengan menjadi nahkoda Pelita Jaya Karawang pada 2011 silam.

Pada akhirnya, manajemen Maung Bandung memanggilnya pulang pada 2012 lalu. Keputusan manajemen kala itu, terbilang cukup tepat.

Bukan tanpa sebab, semusim setelahnya dia sukses mempersembahkan kejayaan untuk Persib. Dimulai dari juara Celebes Cup, Djanur akhirnya mampu mengakhiri dahaga gelar Persib dengan meraih gelar Indonesia Super League 2014 setelah 19 tahun lamanya.

Djadjang juga mencetak sebuah rekor, yaitu mengantarkan Persib menjadi juara liga sebagai pemain, asisten pelatih, dan pelatih kepala. Terakhir, dia sukses mempersembahkan gelar Piala Presiden untuk para Bobotoh.

Kini, Djanur kembali terpanggil untuk menunaikan tugasnya di Persib. Saat ini, Maung Bandung yang tampak tertidur, bakal kembali dibangunkan oleh pawangnya.

Kembali ke Persib kali ini tentu terasa berbeda. Selain karena memunculkan sebuah harapan baru, Djanur baru saja pulang usai berguru ke Italia.

Pelatih berusia 51 tahun ini bahkan mampu menorehkan prestasi di Italia. Dia berhasil membawa Inter u-18 melaju ke final turnamen Memorial Claudio Sassi edisi ke-26 di Stadion Dino Ferrari Maranello, Modena.

Selain itu, Djanur memang dilibatkan secara langsung dengan pengenalan latihan di Inter. Beberapa kelompok umur pernah ditanganinya bersama I Nerazzurri.

Tentu, hal ini sangat bermanfaat untuk Persib. Bukan tanpa alasan, serapan ilmu Djanur, dipastikan bakal ditularkan kepada Atep cs. (I. Eka Setiawan)

**Ingin mendapatkan informasi terbaru tentang Ramadan, bisa dibaca di sini.

Berita Bola Lainnya