Sambut Satu Suro, Keraton Yogya Gelar Ritual Tapa Bisu Muben

445558_620.jpg

Rabu, 20 September 2017 | 23:54 WIB


Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kanan kedua) bersama kerabat Puro Mangkunegaran melakukan Kirab Pusaka dan Tapa Bisu 1 Suro mengelilingi Komplek Istana Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, 13 Oktober 2015, malam. Acara tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram atau Tahun Baru Jawa 1 Suro. ANTARA FOTO

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kanan kedua) bersama kerabat Puro Mangkunegaran melakukan Kirab Pusaka dan Tapa Bisu 1 Suro mengelilingi Komplek Istana Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, 13 Oktober 2015, malam. Acara tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram atau Tahun Baru Jawa 1 Suro. ANTARA FOTO.

Domino1one.club, YOGYAKARTA – Keraton Yogyakarta menggelar ritual tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng untuk menyongsong Tahun Baru Jawa 1 Suro 1951 Dal / 1439 H, Kamis petang 21 September 2017 atau saat malam Jumat Kliwon.

Dalam kegiatan ini para abdi dalem keraton bersama masyarakat akan melakukan ritual mengitari Beteng Keraton Yogyakarta sambil tapa bisu atau berjalan tanpa bicara. “Dimulai dari pelataran Kagungan Dalem Keben Keraton Yogyakarta,” ujar Ketua Panitia Kanjeng Raden Tumenggung Gondohadiningrat, Rabu 20 September 2017.

Pada ritual Mubeng Beteng atau berjalan mengitari benteng Keraton Yogya ini para abdi dalem keraton Yogya berbagai tingkatan baik golongan Punokawan, Kaprajan, dan Prajurit diminta hadir seluruhnya. Para abdi dalem itu juga diminta mengenakan pakaian ritual pranakan wiron engkol tanpa cenela atau tanpa keris dan sandal.

“Acara dimulai dengan menggelar (musik) Macapatan pukul 20.00 WIB,” ujarnya. Untuk acara inti Tapa Bisu mengelilingi keraton sendiri akan dilakukan tepat pukul 00.00 hingga selesai.

Selama perjalanan mengitari benteng keraton itu peserta dilarang berbicara satu sama lain sampai acara selesai. Adapun rute tapa bisu ini dimulai dari pelataran Keben Keraton, lalu peserta akan berjalan melewati Jalan Rotowijayan, Kauman, Jalan Wahid Hasyim, Suryowijayan, Pojok Beteng Kulon, hingga tembus Jalan MT Haryono.

Kemudian peserta akan melewati Plengkung Gading terus menuju ke timur hingga Pojok Beteng Wetan. Selanjutnya peserta akan berjalan ke arah utara melewati Jalan Brigjen Katamso, Ibu Ruswo dan berakhir di Alun-alun Utara. Tak ada kewajiban bagi peserta harus berapa kali berjalan memutari beteng keraton itu.

Panitia Mubeng Beteng lain Kanjeng Raden Tumenggung Wijoyo Pamungkas mengatakan dalam tapa bisu kali ini biasanya peserta hanya sekali mengitari beteng keraton Yogyakarta dengan prediksi waktu kurang dari satu jam.

Ritual tapa bisu ini merupakan prosesi untuk mengajak masyarakat melakukan refleksi dan perenungan bersama atas tindakan yang sudah diperbuatnya setahun terakhir. “Tidak ada tema khusus, refleksi batin masing-masing peserta saja agar menjadi pribadi lebih baik,” ujar Wijoyo.

PRIBADI WICAKSONO 



Berita Bola Lainnya